Gak Semudah yang Dibayangkan
Pada orang-orang aku sering bercerita tentang ini, tapi
hanya Allah yang benar-benar tahu yang sebenarnya. Ini semua karena aku masih
muda. Ini semua karena anugrah yang diberikanNya. Ini karena Dia dan harusnya,
maunya, dan ku coba untuk Dia. Senyum menyertai saat ku tatap cermin.. aku berdoa untuk
sosok yang kulihat, aku akan menjaganya Pengasih.. Aku bahagia dengan
pemberianMu ini. Tapi bolehkan aku menceritakan cobaan-cobaan yang menyertai
anugrah-anugrahMu wahai Pengasih. Tapi bukan berarti Kau saja yang Mengetahui
tidak cukup bagiku, tapi Kau Yang Maha lebih tahu.. aku, kecenderunganku, semua
tentang aku.. Kau yang tahu. Kemana melangkah,
setidaknya dua bola mata akan mengikuti ku memperhatikan anugrah dariMu. Akan banyak yang membuat bayangan-bayangan tentang
anugrah-anugrahMu itu. Pengasih, Kau lebih paham akan kebingungan yang kulanda.
Aku meminta maafmu mohon ampuni aku untuk terkadang yang banyak yang sepertinya
aku mengecewakanMu. Banyak yang mengagumi, banyak yang kemudian mengungkapkan
kekaguman itu. Beberapa kemudian mengusik hatiku, sedikit selanjutnya
memperoleh beberapa posisi di hatiku. Terkadang aku tidak tega untuk tidak
mengindahkan mereka. Tetapi terkadang terlalu tega untuk menyakiti mereka.
Terkadang mereka hadir tidak hanya menawarkan suatu ungkapan rasa kagum..
terkadang dengan perngharapan lebih, dan aku takut dengan pengharapan mereka..
Pengasih akan terus tetap bersamaku, aku yakin itu. Aku sadar koq, mereka datang itu bukan untuk aku melainkan
untuk anugrah-anugrah yang kau sertakan padaku.. ya mereka mengagumiMu. Aku
senang terkadang bisa membuat beberapa tersenyum hanya dengan keberadaan
anugrahMu ini didekat mereka. Tapi itu terkadang juga menyakiti anugrahMu yang lain yang justru jarang
mereka indahkan, hatiku. Seolah-olah terkadang hanya prestige jika mereka
berhasil mendekati
anugrahMu itu, tidakkah mereka sadar itu kadang menggoyahkan hati yang lemah
tadi. Aku harus selalu siap mensupport hati karena
kadang si hati ini mencoba menuang kebajikan yang justru disalah arti sehingga
ia dibuat terjajah. Aku terkadang tidak mengerti dengan maunya hati ini. Tapi
aku akan selalu berkata untuk saat ini, Hatiku kamu harus siap dan kuat untuk
dipersinggahi dan menjadi pelaluan pengamat-pengamat anugrahMu tadi. Apa yang harus aku lakukan duhai pengasih.. ada saran
sahabat yang berkata berikanlah dan percayakanlah itu pada seorang yang mampu
menjaganya. Haaaha aku tertawa mendengar saran itu, karena yang menyarankan itu
pun aku belum yakin beliau mampu menjaga dan memperlakukan anugrahMu
seperti aku yang telah
menganggap ini satu bagiku. Ada saudara yang bilang nikmatin dan ambil
benefitnya untuk semua.. tapi aku menggadai hati jika ikuti ini. Banyak yang
berkata, biarkan lalui saja. Ya ya.. mari kawan kita berlalu dengan menuai
beberapa jejak di anugrah yang lemah tadi, hati. Tapi Pengasih aku masih seperti dulu koq, aku hanya
mengharap yang datang dengan sedikit serpihan rasa kasihmu. Itu saja sudah
cukup bagiku. Tapi untuk saat ini aku tidak bisa mengerti yang mana yang datang
dengan serpihan itu, karena semua yang hadir masih terlihat sama bagiku. Hmm.. kasihmu terlalu besar untuk aku merasa kekurangan
kasih. Orang-orang terkasih yang menyertakan kasihnya selalu pun masih penuh
serpihan kasih. Iyalah Pengasih, aku tetap sadar hatiku itu lemah karena masih
ada serpihan kasih yang belum kembali padanya, padahal si hati itu tidak tahu
dimana dan bagaimana dia akan menemui serpihan kecil itu. Aku akan berusaha
menguatkan dia untuk terus melangkah pada arah Mu. Pengasih tolong tuntun dia untuk
berada dalam jalan kasihmu. Karena kasih besarMu tak mungkin aku relakan demi
sebuah kasih kecil yang belum aku ketahui apa-apa prihalnya. Jalan kami ini masih panjang
untuk mencari mozaik serpihan kasih yang masih tercecer itu kan? dan lagi
sekarang memang belum waktu yang ku harap untuk bertemu kasih kecil itu..
blog comments powered by Disqus

