Sebuah pembelajaran luar biasa dari seorang berjiwa bebas..
Seorang berjiwa bebas mungkin itu julukan yang paling pantas untuk di berikan ke serombongan pemuda itu. Berawal dari aku dan my sisters menunggu angkot hendak menuju mall setelah keluar dari outlet Edward forrer. Siang itu terasa sangat terik apalagi dalam kondisi berpuasa, tentu capek rasanya. Tanpa pilah-pilih angkot yang lewat pun langsung kami stop saja. Aku menghela nafas dan mengucap nama Allah dalam hati saat hendak duduk dalam angkot tersebut. Dalam angkot itu telah menyambut serombongan pemuda berkaos hitam dengan gaya rada urakan, seorang dari mereka membawa gitar and almostly mereka memakai anting.
Pemuda yang duduk disebelahku seperti seorang wartawan yang menghadapi selebritis, tak henti aku dihujani pertanyaan. Ya, disiplin ilmu teknik telah membuatku terbiasa menghadapi berbagai tipe lelaki dan aku tidak ingin kelihatan penakut dihadapan manusia “liar” satu ini. Mulai dari pertanyaan kemana tujuan kami, berlanjut dengan dimana aku sekolah, saat aku jawab aku kuliah di jogja, mereka saling pandang kemudian tertawa, aku tersenyum melihat mereka tertawa dan menyempatkan diri memandangi ekspresi beberapa orang dari mereka (*satu hal terbeslit dalam pikiranku, aku lebih beruntung dari mereka). Aku jawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan dengan menatap wajah mereka. Oh my god, tato tato memenuhi sebagian tangannya! Aku kemudian terdiam dengan satu pertanyaan ini “boleh tau ga dek, rambutnya panjang atau pendek”.
Aku jadi malas menggubris lagi, sebelumnya aku menggubris minimal dengan senyuman karena tidak ingin orang-orang seperti mereka menganggap cewek berjilbab enggan berbicara pada mereka, atau sombong lah, atau apalah. Nah sekarang terserah dah mereka mau bilang apa!
Didiami tuh orang berkicau lagi, “kan Cuma pingin tau, pendek atau panjang”. Aku tetap diam dan memandangi adik dan kakakku, mereka pun diam dan mengarahkan wajah ke jalanan. Dengan tampang kecut dan suara yang pelan aku bilang “ya ga boleh tau lah, kan aku pakai jilbab”. Sejurus kemudian pemuda tersebut berceramah tentang pandangan-pandangannya, dan sering kali berkata, “wajarlah, kami ini gila, baru keluar dari rumah sakit jiwa” and LOL.
Bayangan-bayangan menyeramkan terlintas dalam benakku, bagaimana kalo tiba-tiba mereka menarik jilbabku.. oh Salaam..
Alhamdulillah sesaat kemudian naik seorang ibu bersama anak dan cucunya. Aku lega!
Sekarang rombongan itu bertanya pada ibu tersebut tentang pilihan wanita terhadap lelaki, dengan tegas ibu itu menjawab “ya memang paling pertama itu cakep dan uang”
Aku tersenyum mendengarnya
Pemuda yang paling menyeramkan dari mereka kembali bersuara “ga bakal ada yang mau kalo seperti kami ini, padahal kami butuh cewek. Cewek dan cowok tu saling butuh. Udah gila kalo bilang ga butuh, bner kan bu?”
Dengan tegas lagi ibu itu menjawab “iya”
Hufh.. akhirnya sampai juga, saat turun salah seorang dari mereka meminta maaf karena telah membuat risih. Yayaya
Aku tersadar, konsep dakwah baru sekedar konsep pada diriku. Aku masih takut ketika bener-bener dihadapkan pada suatu perkara. Andai aku menerapkan konsep dakwah pada perbincangan yang tidak ku harapkan itu, mungkin bisa aku selipkan sedikit ilmu bermanfaat saat itu. Ya, ilmu dan kemampuanku memang masih sedikit.
Seandainya naik kendaraan pribadi tentu takkan ku dapat pelajaran ini. Entah, apakah kalian yang baca juga mendapat pelajaran dari ceritaku ini?
29 Agustus 2010
blog comments powered by Disqus

